Namaku itu... Ai.. Love..
D.. Death..
K.. Hana /? /bisajugaKill
Ok.. kenapa kita bahas ini?
...
"Hana! Makan dulu!"
"Nanti istirahat aku beli makanan aja, Ma." aku berlari setelah
menyambar tiga sandwich, dua di mulut dan satu di tangan kiriku. Tangan
kananku dengan cekatan memasukkan kaki mungilku sepatu hitam tanpa tali
ini.
Telat adalah alasan dibalik aku memilih sepatu tanpa tali, rambut
pendek, dan sekolah dekat rumah. Sepak bola, battle game online, dan
kadang remedial geografi mengharuskanku tidur larut malam dan akhirnya
kesiangan dan telat. Dan...
# Bruk!
"Aww!" aku memegangi kepalaku yg terbentur kepala besi milik bocah ini. Umm, bocah, kurasa bukan...
"Ittai... Arzzz.. Hani! Bisa tidak, seminggu aja, biarkan aku lewat
jalan ini dengan damai!" Dicky, teman sekelasku yang rumahnya di gang
dekat sekolah. Aku biasa bertabrakan saat aku berlari dan dia muncul
dari gang disaat bersamaan.
"A-aduh." aku masih memegangi kepalaku dengan mataku yang mulai berkunang-kunang. H-hey, kenapa aku ini?!
"Han?" Dicky seketika menopang tubuhku yang nyaris pingsan. "Lo gak kenapa-kenapa kan? Abis mabok apa semalem?"
"Tuhan. Ikky lo kejam banget, emang gue cewek apaan?! Awas! Gue bisa jalan sendiri!" Aku langsung berjalan meninggalkan Dicky.
"Hey, Han, Lo kok tampang-tampangnya kayak orang gak tidur semaleman? Hayo ngapain lo sama anak kostan nyokap lo?"
"Idih, lu mah! Kostan punya nyokap gue isinya cewek semua, bro! Kali dah gue ngapa-ngapain, emang gue seganteng itu apa?"
Kami langsung mempercepat langkah mendengar Pak Yanto, satpam
sekolah, sudah membunyikan peluit seperti guru olahraga. Untungnya ini
bukan hari senin yang membuat keadaan lebih gila.
"Han, kalah, Han. Jagoan lo kalah kemaren." Okay, baru sampai di kelas aku langsung di sambut dengan taruhan bola.
"Han, PR Fisika, Han! Taruhannya nanti aja, oy!" seru Dicky yang tiba-tiba sudah ada di hadapanku lagi.
"Nah loh gue belom ngerjain! Pelajaran kedua ini, santai, gue mah aman. Kalau kalian sih gue gak urusan."
"Sialan kau, Han."
Singkat cerita, Ikky alias Dicky itu teman akrabku sejak kelas 11.
Dari sekian banyak cowok yang dekat dengan seorang cewek tomboy
sepertiku, dialah yang paling dekat denganku. Dengan kata lain, dia
memang dekat dengan banyak cewek. Katanya anak-anak sih, ganteng.
Dia memang ganteng, tapi sayang butuh waktu 9 bulan untukku
menyadarinya. Untung saja hanya itu hasil dari 9 bulan. Astaga, reader
pasti mikir kemana-mana.
Dia menurutku walau agak brengsek dan kelihatan playboy, tapi
terkadang dia memang baik. Maksudku, bahkan belum pernah kudengar dia
berpacaran dengan seorang cewek. Atau dia.. Homo?! Ah nggak mungkin -_-
Intinya dia baik, seperti siang hari ini. Dia mengantarku pulang ke
rumah. Ya, walau dia memang sering mondar mandir ke kostan yang kusebut
rumah ini. Daripada disebut baik, dia lebih ke arah cari kesempatan.
"Dicky! Hani, kamu sama Dicky, kan? Ajak dia masuk sebentar!" ucap Mama dari ruang tamu di dalam.
"Ah, nggak usah repot-repot, Tante. Dicky juga mau langsung pulang."
"Heh, sebentar, Tante mau ngomong."
Aku menggeret Ikky ke dalam dan menyuruhnya duduk di sofa layaknya tamu terhormat. Berbeda dari biasanya.
Aku masuk ke kamarku yang paling dekat dengan tempat mereka
mengobrol. Aku mengganti pakaian seragam sambil mencuri-curi dengar
pembicaraan mereka. Siapa tahu aku akan dijodohkan dengan Ikky? Aww
#plak
Mama membicarakan tentang orang tua Ikky yang akan pindah ke
Malaysia bulan depan. Hey, darimana Mama tahu? Lalu membahas tentang hal
yang tidak kuketahui.
"Orang tuamu menitipkanmu ke keluarga kami, selamat datang, Dicky."
Hah?!
...
Bersambung...


0 komentar:
Posting Komentar